EfRiLia…











{Mei 13, 2008}   Sikap Kebijakan Diplomasi Inggris

Kebijakan diplomasi suatu negara tentunya dapat berubah-ubah, yang tentunya sikap tersebut mewakili atas kepentingan negaranya. Salah satunya yaitu sikap diplomasi Inggris terhadap Iran mengenai permasalahan penangkapan 15 marinir Inggris yang dibekuk saat melanggar teritori Iran pada tahun 2007 lalu.

PM Inggris, Tony Blair, pada tanggal 4 april 2007 mengharapkan dialog langsung dengan Iran. Pernyataan pejabat Downing Street itu disusul pernyataan kantor PM Inggris soal kontak dengan para pejabat tinggi Iran termasuk Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani. Perubahan nada diplomasi itu dinilai sangat mendadak mengingat sebelumnya, Blair menetapkan ultimatum selama 48 jam kepada Iran untuk membebaskan para marinir Inggris. London mengancam akan mengambil langkah-langkah tegas jika Teheran tetap menolak membebaskan mereka.

Kronologi pelunakan nada diplomasi Inggris ini cukup menarik untuk dirunut kembali. Awalnya, Inggris mengecam penangkapan 15 marinirnya oleh Iran dan menuntut pembebasan mereka segera. Rencana Iran membebaskan seorang marinir perempuan Inggris bernama, Faye Turney, ditanggapi para politisi London dengan gertakan bahwa pembebasan Turney saja tidak cukup. Iran membalas gertakan itu dengan membatalkan pembebasan Turney. Muncul kemungkinan bahwa para pejabat Inggris salah memahami niat baik Iran untuk membebaskan Turney. Pembebasan Turney mereka anggap sebagai sinyalemen bahwa Teheran tengah tersudut. Namun setelah proses ini stagnan, kini Inggris mengubah gaya diplomasinya dan mengharapkan dialog langsung dengan Iran.

Secara keseluruhan, sikap Inggris dalam hal ini mengungkap watak dan penilaian kaum Barat terhadap negara-negara dunia ketiga khususnya negara Islam seperti Iran. Mereka akan menyodorkan berbagai dalih dan alasan hukum apapun jika persengketaan yang muncul menyangkut kepentingan negara lain. Namun mereka akan berjingkrak geram jika ada negara dunia ketiga bertindak seperti yang dilakukan oleh Iran saat ini. Sikap arogan, pongah, dan arbitrer, adalah reaksi pertama yang akan mereka tunjukkan. Dalam kasus penangkapan 15 pasukan Angkatan Laut Kerajaan Inggris misalnya, selain mengancam Teheran, London juga menuntut pembebasan mereka tanpa syarat dan tanpa perundingan apapun. Ini hanya sekelumit dari watak premanisme para politisi Britania.

Seperti yang telah berulangkali dikemukakan para pejabat Iran, penyelesaian masalah ini sangat mudah. Iran berharap Inggris meminta maaf dan menjamin agar pelanggaran serupa tak terulang kembali. Republik Islam Iran berharap Inggris dan Uni Eropa menghormati hak dan kedaulatan Iran, sebagaimana mereka tidak ingin hak dan kepentingan mereka diusik pihak lain. Alhasil, perkembangan selanjutnya soal kasus ini akan terus disorot masyarakat internasional dan Inggris diharapkan menghindari gaya diplomasi premanismenya terhadap Iran. Karena seperti yang terjadi saat ini, perubahan nada diplomasi Inggris terhadap Iran kini menjadi olokan media massa Eropa dan merusak reputasi negara tersebut di mata masyarakat internasional.

Sumber: IRIB bahasa Indonesia.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: