EfRiLia…











{Maret 11, 2008}   PeReKonoMian IngGriS

Ekonomi:

inggris adalah salah satu yang ekonominya paling kuat, produk domestic bruto (PDB) berada di urutan terdepan di negara-negara Eropa. Proporsi pembuatan Inggris agak menurun dalam ekonomi nasional, sedangkan proporsi industri jasa dan energi semakin naik, khususnya indsutri bisnis, industri moneter dan industri asuransi mencapai perkembangan pesat. Pada tahun 2002, ekonomi Inggris nomor 4 terbesar di dunia, adalah negara investor nomor 2 terbesar di dunia. Perusahaan swasta adalah soko guru ekonomi Inggris yang mengambil 60 persen dalam PDBnya. Sumber daya Inggris cukup kaya di negara-negara Uni Eropa. Adalah negara produk minyak bumi dan gas alam yang utama di dunia. Sumber dayanya terutama adalah batu bara, minyak bumi, gas alam, tenaga atom dan tenaga air.

Publikasi United Nations Human Development Report telah menempat- kan Inggris di nomor 15 dari 17 negara industri dalam tingkat kemiskinan. Insfitute for Fiscal Studies juga melakukan riset yang menunjukkan bahwa antara pertengahan tahun 70-an dan tahun 90-an, jumlah penduduk yang memperoleh pendapatan di bawah 5G % dari rata-rata pendapatan norrnai, meningkat dari tiga juta penduduk menjadi sebelas juta penduduk. Sementara itu, untuk penduduk yang hidup di bawah tingkat kemiskinan tidak mengalami peningkatan hidup sejak tahun 60-an.’ Dalam waktu beberapa tahun terakhir, kita juga menyaksikan bagaimana ribuan lapangan kerja telah hilang di Inggris, sebagai contoh di Inggris pada tahun 1980 industri manufaktur mempekerjakan tujuh juta buruh, sedangkan di tahun 1998 hanya tersisa sekitar 3,9 juta buruh. Nilai ekspor menurut dari 6,4 % di tahun 1997 menjadi 3,9 % di tahun 1998. Sementara itu industri manufaktur di Inggris sendiri mengalami defisit sebesar 20 juta pound.

Secara umum, perekonomian Inggris bisa dikatakan berada dalam grafik menurun. lndustri di Inggris sudah tidak mempunyai daya saing lagi di pasar dunia. Hal ini disebabkan karena para kapitalis di Inggris sudah tidak tertarik untuk menginvestasikan modal mereka di bidang industri; sebagian besar dari mereka mengirimkan modal mereka ke luar negri. Sementara itu, untuk industri yang tersisa, mereka sudah tidak memberi perhatian yang besar lagi, misalnya untuk biaya training buruh mereka hanya mengeluarkan dana 0,3 % dari pendapatan mereka. Bandingkan angka ini dengan Jepang dan Jerman yang menghabiskan biaya enam kali lebih besar untuk training buruh. Jadi lnggris telah masuk ke dalam era low skill economy, bisa dikatakan bahwa hanya sekitar 35 % buruh di Inggris yang merupakan skil/ed workers dan jumlah anak muda antara 16-25 tahun yang berpendidikan memadai juga hanya mencapai angka 35 %. Di tambah lagi dengan kondisi di mana biaya produksi di Inggris 20 pesen lebih besar dibandingkan biaya produksi di negara Eropa lainnya.

Inggris Tetap Maju Mundur Bergabung dalam Zona EuroAWAL bulan Mei lalu, para pemimpin dari 25 perusahaan besar Inggris mengirim surat kepada Perdana Menteri (PM) Tony Blair, mengingatkan dampak serius yang bakal dihadapi perekonomian Inggris jika terus berada di luar zona euro. Para pemimpin dengan sekitar 100.000 karyawan ini antara lain pimpinan British Airways Colin Marshall dan pimpinan Vodafone Chris Gent. Surat ini berkaitan dengan rencana Pemerintah Inggris, awal bulan Juni ini, mengumumkan hasil tes ekonomi yang memungkinkan Inggris bergabung ke zona euro.

PEJABAT Keuangan (Chancellor of the Exchequer) Inggris Gordon Brown dijadwalkan akan mengumumkan lima tes ekonomi yang sudah dilakukan sejak Oktober 1999. Apabila hasil tes memberikan sinyal lampu hijau untuk bergabung, langkah selanjutnya adalah referendum umum guna meminta pendapat dari rakyat, apakah Inggris memang harus bergabung dalam zona euro.

Apa yang disampaikan para pemimpin 25 perusahaan besar Inggris ini memperlihatkan suara mendukung Inggris bergabung ke euro. Dalam suratnya mereka mengatakan, Pemerintah Inggris harus berani bergabung ke zona euro karena memberikan keuntungan jangka panjang. Mereka mendesak PM Blair agar segera mengumumkan referendum sebelum pemilu Inggris tahun 2006 mendatang.

Hanya saja, sejumlah ekonom yang bergabung dalam Financial Hub, London, dalam suatu jajak pendapat mengatakan menolak Inggris bergabung dalam euro. Mereka tak rela menyingkirkan mata uang poundsterling yang sudah berusia 1.200 tahun. Mereka juga khawatir bahwa independensi Inggris dalam kebijakan moneter dan suku bunga akan hilang, serta kepentingan ekonomi Inggris tidak bisa berbagi dengan Eropa.

Surat atau nada protes juga praktis menghiasi semua media cetak Inggris setiap harinya. Kantor berita AFP menyebutkan, nada protes ini mencapai jutaan. Mereka mengatakan bahwa Inggris tidak siap untuk bergabung dalam zona euro. Penolakan ini bukan saja berkaitan dengan kebanggaan mereka pada poundsterling, atau baik bagi perekonomian Inggris atau tidak, tetapi sudah menyinggung kemungkinan Inggris kehilangan kontrol politiknya.

Bermakna ganda

Gordon Brown tadinya dijadwalkan sebelum 7 Juni akan mengumumkan hasil tes ekonomi. Namun, belakangan disebutkan bahwa pengumuman tes akan dilakukan 9 Juni setelah pertemuan dengan para rekan kementeriannya. Sebelumnya tidak kurang dari 18 hasil studi dengan hampir 2.500 halaman dipelajari guna memutuskan bahwa Inggris pantas atau tidak bergabung dalam zona euro.

Adapun lima tes ekonomi yang dilakukan yakni apakah kegiatan bisnis dan struktur ekonomi Inggris cocok, dan karena itu Inggris dan pihak lainnya dapat hidup saling menyenangi dengan tingkat suku bunga euro pada basis permanen. Tes lainnya yakni apabila muncul problem apakah ada flesibilitas yang cukup untuk mengatasi problem tadi.

Berikutnya, tes dilakukan berkaitan jika Inggris bergabung dalam Uni Moneter dan Ekonomi Eropa (EMU), apakah akan memberikan suatu kondisi yang lebih baik bagi perusahaan-perusahaan Inggris dalam membuat keputusan jangka panjang guna melakukan investasi di Inggris. Pertanyaan ini berkaitan dengan posisi Inggris yang secara geografi berpisah dari Eropa daratan.

Tes juga dilakukan berkaitan dengan dampak yang akan terjadi dengan bergabung dalam EMU, terutama berkaitan dengan kemampuan daya saing industri jasa keuangan, yang paling utama pasar keuangan di London. Pertanyaan dari tes ekonomi berikutnya adalah jika bergabung dengan EMU, akan lebih mendorong pertumbuhan ekonomi, stabilitas, dan pada akhirnya memberikan peluang lapangan kerja yang lebih luas di Inggris.

Para ekonom Inggris mengecam tes ini yang dikatakan lebih banyak bernuansa politik dan menimbulkan makna ganda sehingga bisa memberikan jawaban yang berbeda-beda. Lagi pula, tes ekonomi yang diluncurkan tahun 1997 ini jelas sudah tak cocok lagi dengan kondisi sekarang. “Tahun 1997, jelas bukan hal bijaksana untuk bergabung, nilai tukar tidak pas, kondisi perekonomian berbeda,” ujar Profesor Ray Barrell dari Institut Nasional Riset Sosial dan Ekonomi (NIESR) sebagaimana dikutip AFP.

Barrell juga mengatakan, tes ini merupakan ide yang bagus, namun jelas bermakna ganda. Ada maksud-maksud politik, dan karena itu tes ini akan memperoleh sejumlah jawaban yang berbeda-beda. Misalnya menyangkut tes apakah struktur ekonomi Inggris cocok dengan anggota zona euro lainnya, serta apakah cukup fleksibilitas dalam mengatasi persoalan yang muncul, jelas akan mengundang berbagai penafsiran dan interpretasi, terutama dari kacamata seorang politis.

Tes berkaitan berkaitan dengan dampak investasi dan daya saing jasa keuangan, diakui lebih pas dengan persoalan bergabungnya Inggris dalam zona euro.

Dalam kaitan ini, dalam surat, para pemimpin bisnis Inggris kepada PM Tony Blair menyebutkan bahwa bergabung dalam zona euro jelas akan memberikan manfaat bagi ekonomi dan kesejahteraan Inggris dalam jangka panjang.

Mereka menyebutkan bahwa angka keikutsertaan Inggris dalam investasi asing langsung (FDI) ke Uni Eropa terus menurun sejak diterapkan euro tahun 1999.

Mengutip laporan PBB, peran Inggris dalam FDI ke Eropa kini hanya 16 persen, turun dari 29 persen selama 20 tahun terakhir sebelum tahun 1999.

Suatu indikator bahwa Inggris semakin tersisih dalam persaingan di Uni Eropa apabila tidak segera bergabung dalam zona euro.

Pertahankan poundsterling

Sementara suara yang menolak terutama lebih melihat pada upaya mempertahankan kebanggaan mereka pada poundsterling. Tentu juga ada yang menolak berkaitan dengan kemungkinan hilangnya atau bakal tersisihnya peran politik dan moneter Inggris dibanding Perancis dan Jerman yang “dominan” dalam kancah zona euro.

Kebanggaan atas mata uang yang sudah berusia sekitar 1.200 tahun itu, “Saya kira sangat tepat jika warga Inggris memiliki hubungan emosional dan komitmen yang sangat dalam dengan poundsterling,” ujar David Sinclair, penulis buku The Pound yang mengisahkan sejarah panjang mata uang Inggris itu.

“Jadi, sangat pantas untuk mengemukakan bahwa poundsterling telah ada jauh lebih lama dibandingkan mata uang lainnya dari negara-negara yang kini bergabung dalam euro,” ujarnya lagi. Karena itu, jutaan pembaca Inggris yang melontarkan protes mereka agar Inggris bergabung dalam euro semata-mata karena tak ingin poundsterling lenyap begitu saja.

Oleh karena itu, kelompok anti-euro yang bergabung dalam No Campaign menegaskan bahwa dua pertiga dari para usahawan Inggris dalam jajak pendapat September 2002 menghendaki tetap mempertahankan poundsterling. “Ekonomi zona euro kini mengalami angka pengangguran dan lemahnya pertumbuhan ekonomi. Itu sebabnya mengapa sebagian besar usahawan Inggris menolak bergabung dalam euro,” ujar James Frayne, manajer kampanye dari No Campaign sebagaimana dikutip AFP.

Dikaitkan dengan kondisi sekarang, boleh jadi suara menentang masuknya Inggris dalam zona euro mendapat angin segar. Ini terutama berkaitan dengan semakin menguatnya euro terhadap dollar Amerika Serikat dalam beberapa bulan ini. Euro dilaporkan telah menguat sekitar 25 persen sejak awal tahun 2003. Sejumlah ekonom memperkirakan, euro akan terus menguat mencapai 1,3 per dollar AS pada akhir tahun ini. Saat ini euro berkisar pada level 1,7 sampai 1,9 per dollar AS.

Dengan kondisi ini, ke depan jelas akan memukul pertumbuhan ekonomi negara-negara zona euro. Finlandia dilaporkan memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2003 karena menguatnya euro dan turunnya aktivitas ekonomi dalam zona euro. Finlandia tadinya memperkirakan pertumbuhan ekonomi (PDB) mencapai 1,8 persen, namun direvisi menjadi 1,5 persen.

“Ekonomi zona euro tampaknya tidak dapat mencapai momentum pertumbuhan tanpa suatu kekuatan dorong dari luar dan menguatnya euro akan menghambat upaya pemulihan ekspor,” ujar Kementerian Keuangan Finlandia. Finlandia kini hanya berharap pertumbuhan ekonomi akan dipacu oleh permintaan dalam negeri, terutama sektor rumah tangga yang masih menggembirakan.

Kekhawatiran yang sama dilontarkan kalangan bisnis Perancis. Menguatnya euro akan mengurangi penerimaan, terutama pada sejumlah industri yang berorientasi ekspor. Fancois-Xavier Chevallier dan Stephane Malvert dari Bank CIC, Perancis berpendapat bahwa menguatnya euro akan memaksa perusahaan-perusahaan Perancis menurunkan harganya dalam euro, dengan demikian juga akan menekan keuntungannya.

Langkah ini berkaitan dengan kiat mereka untuk bisa bersaing dengan perusahaan ekspor AS yang kini memperoleh daya saing lebih dengan melemahnya dollar AS.

Namun demikian, euro yang menguat ini akan lebih mendorong konsumsi dan memaksa kalangan bisnis untuk mendorong produktivitas dan efisiensi.

Balik ke soal apakah Inggris bersedia bergabung dalam euro, tampaknya belum akan segera terjadi. Ketua Parlemen Inggris John Reid yang juga rekan dekat PM Tony Blair mengatakan bahwa saat ini bukan persoalan apakah Inggris akan bergabung dalam euro, tetapi kapan Inggris akan bergabung dalam euro.

Sinyal yang ada menyebutkan bahwa Blair akan menunda referendum soal euro ini hingga menjelang pemilihan umum tahun 2006 mendatang

About these ads


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: