EfRiLia…











{Maret 5, 2008}   Ideologi Demokrasi Parlementer Inggris
Sistem parlemen dua kamar Inggris inilah yang menjadi cikal bakal
dari hampir semua parlemen bikameral (dua kamar) yang sekarang ada
di banyak negara di dunia, termasuk di Indonesia maupun di Amerika
Serikat. Model parlemen seperti inilah yang seringkali dianggap
sebagai bagian tak terpisahkan dari demokrasi.

Dari sini dapat kita lihat bahwa institusi parlemen dalam artian
sebagai dewan yang mengurus pemerintahan sehari-hari adalah bagian
yang tak terpisahkan dari tradisi feudalisme dan bukan merupakan
konsekwensi logis dari teori demokrasi itu sendiri. Sistem parlemen
baru menjadi bagian dari demokrasi karena perkembangan-perkembangan
sejarah tertentu dan bukan karena pengembangan teori atau kegiatan
intelektual. Perkembangan sejarah yang membuat parlemen menjadi
bagian dari teori demokrasi bukanlah sejarah umum dunia melainkan
sejarah khusus yang terjadi di satu kepulauan kecil di sebelah utara
benua Eropa yaitu Inggris.

Kalau kita mendengar orang-orang dari era Soekarno berbicara soal
demokrasi, sering timbul kesan bahwa demokrasi itu bermula di
Prancis. Ada pemikir-pemikir (philosophes) seperti Rousseau,
Monstesquieu, Voltaire, Dedirot, dan ada tokoh-tokoh Revolusi
seperti Danton, Robespierre, Marat, Corot, dll. yang seringkali
disebut dalam kaitannya dalam demokrasi. Kebiasaan yang salah kaprah
ini seringkali dilakukan oleh dedengkot-dedengkot demokrasi
Indonesia seperti Soekarno, Hatta, dan banyak lagi. Namun itu adalah
pandangan yang salah kaprah. Tokoh-tokoh nasionalis awal di
Indonesia lebih banyak mengenal nama-nama itu karena mereka memang
banyak terimbas oleh pemahaman-pemahaman kiri tapi sayangnya
pembacaan sejarah Eropa yang mereka lakukan sangat minim. Ini saya
katakan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada tokoh-tokoh besar
yang banyak jasanya itu. Akan lebih tepat jika dikatakan bahwa
Revolusi Prancis secara kelembagaan sangat terpengaruh oleh
Pemberontakan Besar (Great Rebellion) di Inggris. Karena itu dirasa
perlu untuk menyambung uraian tentang parlemen bikameral Inggris di
atas dengan sedikit sejarah dari pemberontakan ini.

Seperti yang sudah disebutkan tadi, kekuasaan seorang raja Eropa
dalam teori feudalisme adalah kekuasaan yang terbatas, berbeda
dengan konsep raja yang absolut dalam budaya-budaya Timur. Ia tidak
bisa menarik pajak atau memulai perang tanpa berkonsultasi dengan
parlemennya. Ini bukan disebabkan karena masalah konstitusi atau
semacamnya, tapi karena masalah adat istiadat dan budaya. Dari segi
militer, raja-raja Eropa waktu itu (abad 17) tidak punya yang
namanya tentara tetap (standing army). Kalau raja hendak berperang,
mereka harus merekrut petani-petani dari daerah-daerah di
kerajaannya, dan untuk itu ia harus minta ijin kepada majikan dari
para petani itu, yaitu adipati-adipati yang secara teoritis adalah
bawahannya juga. Tapi karena adipati-adipati ini memegang kesetiaan
rakyat lokal, maka kalau si adipati tidak setuju dengan rencana
perang yang diajukan raja, ia bisa mensabotase rencana perang raja
dengan tidak muncul bersama pasukannya pada saat apel siaga. Selain
itu, petani-petani yang direkrut menjadi pasukan ini harus diberi
makan dan untuk itu diperlukan uang. Lagi-lagi raja Eropa seringkali
tidak memiliki dana pribadi (privy purse) yang memadai untuk
berperang sendirian sehingga ia harus meminta bantuan finansial dari
adipati-adipatinya juga.

Raja Prancis di abad 17 seperti Louis XI misalnya, bisa merekrut
petani dan menarik pajak sesuka hati karena raja-raja pendahulunya
sudah mengembangkan sistem birokrasi non-bangsawan yang lumayan
efektif tanpa perlu parlemen, sehingga kekuasaannya menjadi makin
lama makin absolut (sampai memuncak pada era pemerintahan Louis
XIV). Tapi karena raja-raja Inggris tidak pernah mengembangkan
sistem birokrasi seperti itu, ia sangat tergantung pada parlemen.
Situasi ini berusaha diatasi oleh Charles I dari Inggris dengan cara
menggunakan kekerasan untuk memaksa House of Commons menyetujui
penarikan pajak kapal (ship money) untuk membiayai perangnya melawan
Prancis dan Spanyol.

Parlemen Inggris, terutama kamar bawahnya, yaitu House of Commons,
bukanlah parlemen yang lembek seperti di Prancis. Sejak abad 15,
pejabat-pejabat lokal ini berhasil menumpuk kekayaan yang tidak
sedikit dan mereka merasa marah ketika Charles I datang membawa
pasukan pengawalnya untuk menangkap anggota Commons yang menolak
memberikan suara setuju terhadap penarikan pajak yang diminta
Charles.

Maka untuk pertama kalinya dalam sejarah Eropa, terjadilah perang
antara parlemen melawan rajanya sendiri. Perang ini membawa dampak
yang menarik dari aspek politik. Di satu sisi, para pemberontak
(yang disebut sebagai kaum parliamentarist) tidak bisa menolak
keabsahan Charles I sebagai raja karena menurut teori politik feudal
yang ada saat itu Charles I memang berhak menarik pajak itu, tapi di
sisi lain mereka tidak mau kekayaan mereka disedot habis oleh
kesewenangan raja. Dari sini lahirlah konsep yang tetap banyak
digunakan sampai sekarang, termasuk di Indonesia, yaitu "rule of
law".

Konsep ini dalam penerapannya waktu itu menyatakan bahwa seorang
raja Inggris tidak berhak menarik pajak atau menyatakan perang
kecuali kalau ia mendapatkan keabsahan hukum dalam bentuk
persetujuan dari parlemen. (Ini sekarang diterapkan di Indonesia
dalam bentuk hak budgeter DPR). Charles I tentu saja tidak mau
menerima teori baru yang diajukan kaum parlementaris ini karena dia
berpegang pada teori bahwa raja memegang kekuasaan mutlak. Namun
dalam perang yang meletus itu, dia kalah dan kepalanya dipenggal
oleh pasukan parlementaris di bawah pimpinan Cromwell. Secara teori
politik, bisa dikatakan bahwa teori parlementer tentang pembatasan
hak penguasa oleh hukum atau aturan yang dibuat parlemen mendapatkan
kemenangan dengan dipenggalnya kepala raja Charles I ini. Biarpun
kemudian Inggris tetap menjadi monarki, namun sistem rule of law ini
tetap bertahan sampai sekarang di Inggris dan di banyak negara lain
di dunia yang berbentuk demokrasi (terutama negara-negara republik
di Asia dan Afrika yang berdiri di era sekitar Perang Dunia II
dengan bantuan dana Amerika).

Kesimpulannya: demokrasi parlementer adalah sebuah konsep yang
terbentuk karena pengalaman sejarah tertentu, dalam hal ini sejarah
Inggris yang kemudian dicoba di Prancis dan Jerman. Dalam pola ini
ada tahap-tahap perkembangan historis sebagai berikut:
(a) Di sebuah negara ada kekuasaan absolut raja yang ditopang dengan
teori feudalisme,
(b) Kemudian muncul kelas penguasa lokal yang mendapatkan kekayaan
besar dan menggunakannya untuk melawan raja dengan menggunakan
instrumen struktur formal kenegaraan (parlemen/Commons) dan
(c) Perlawanan secara militer ini dibarengi dengan menggunakan
perlawanan secara ideologis, yaitu dengan mengeluarkan teori-teori
tandingan untuk melawan teori feudalisme, yaitu teori yang sekarang
kita sebut demokrasi parlementer.

Pola perkembangan serupa kemudian diulang lagi beberapa tahun
kemudian di dalam Revolusi Prancis di tahun 1790an (yang juga
memenggal kepala rajanya, Louis XVI) dan di Jerman di tahun 1848,
yang semuanya menggunakan ideologi demokrasi parlementer yang sama
seperti yang digunakan di Inggris. Demokrasi, parlemen dan rule of
law lahir dalam konteks seperti yang disebutkan di atas dan
hubungannya dengan demokrasi Yunani-Romawi Kuno sangat tipis atau
bahkan bisa dikatakan tidak ada. Tentu saja, kalau kita melihat
sejarah Yunani Kuno, ada undang-undang Solon seperti yang sudah
disebutkan tadi. Tapi undang-undang Solon ini bukan "hukum" dalam
artian modern karena undang-undang Solon tidak mengatur tentang
struktur negara (sehingga tidak dapat dikatakan sebagai undang-
undang konstituante). Dewan rakyat atau ecclesia yang syarat
keanggotaannya diatur oleh undang-undang Solon ini sudah ada dan
bekerja sebelum Solon menuliskan satu huruf pun dari undang-
undangnya.
About these ads


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: